Masyarakat Indonesia adalah pejuang, berjuang untuk hidup. Tak kerja tak makan. Saling menatap dan memandang, masing-masing punya prinsip dan berprinsip :
‘Yang kaya berprinsip menambah harta dan kalau bisa jangan berkurang’.
‘Yang tak punya berprinsip, bagaimana besok akan mencari tuk makan’.
‘Yang kaya berprinsip, tak ada teman maupun lawan, asal itu bisa menguntungkannya’.
‘Yang tak punya berprinsip, mencari teman dan menjadikan lawan jadi teman’.
Indonesiaku tak akan maju, dulu dijajah bangsa lain. Sekarang dijajah bangsa sendiri, saling menjegal, musuh jadi kawan, kawan jadi musuh. Wahai masyarakat Indonesia, bersatulah seperti saat kita dijajah para penjajah. Dulu berjuang dengan bambu runcing, sekarang berjuang dengan kenestapaan. Veteran jadi sejarah, penghormatannya jadi logam tak berharga.
Tanduk-tanduk setan jadi senjata. Menipu, berbohong, mengambil harta rakyat, mencuri kekayaan bangsa. Rakyat hanya jadi kendaraan, kendaraan yang tak terawat, yang tak pernah diganti oli. Kekuasaan sekarang bukan ditangan Presiden maupun MPR/DPR, tapi kekuasaan sekarang ada di tangan ‘ u a n g ‘. Hukum bagai tombak yang dijualbelikan di pasar, tawar menawar harga yang pas. Merdu kicau burung sudah jarang terdengar, sawah sudah ditanam beton-beton yang panas dan kokoh. Air yang jernih jadi aliran limbah, hutan kini jadi padang gersang. Tak dapat menjaga, bisanya hanya merusak. Pejuang-pejuang Indonesia, jadilah patriot sejati, jangan lunturkan kepatriotisme-mu dengan suapan uang yang haram. Lebih baik berkalang tanah daripada hidup dalam kebohongan.
Apa yang terjadi di Indonesia? Apakah ini Indonesia? Inikah Indonesia yang dulu gagah berani melawan penjajah? Milik siapakah Indonesia ini? Kenapa rakyat Indonesia tidak merasakan kekayaan negara dan bangsa? Kemanakah kekayaan Indonesia kita? Jasmerah = Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Tapi sekarang sudah melupakan sejarah. Sekarang sudah menjadi jelas-jelas meninggalkan sejarah ( Jasmerah ). Jangan lagi pakai Jasmerah, bikin malu. (more…)





